Gus Dur; di Balik Gagasan Mengedepankan Kiai Kampung

gusdur.jpgKiai Sepuh Lebih Banyak Komunikasi dengan Elite
Sabtu, 17 Februari 2007, DPP PKB akan menyelenggarakan pertemuan ketua Dewan Syura PKB se-Jawa di Hotel Vedosia, Pasar Minggu, Jakarta.
Setelah itu, Minggu, 18 Februari 2007, DPP PKB akan menggelar Majelis Silaturahmi Ulama Rakyat (Masura) yang bertema “Ngaji Bersama Gus Dur” di kediaman mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid di Ciganjur, Jakarta Selatan.Rencananya, agenda “Ngaji Bersama Gus Dur” itu akan menghadirkan sekitar dua ribu hingga tiga ribu kiai kampung se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).Mengapa pendekatan PKB lebih diintensifkan kepada kiai kampung? Bukannya kiai khos yang selama ini dikenal sebagai Kiai Langitan? Berikut petikan wawancara Jawa Pos dengan Ketua Dewan Syura DPP PKB KH Abdurrahman Wahid di Kantor PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, kemarin. 

Apa yang melatarbelakangi upaya optimalisasi kekuatan politik kiai kampung?

Awalnya, saya mendapat telepon dari paman saya, Kiai Amanullah. Katanya, beliau sempat ketemu Ali Maschan Musa (ketua umum PW NU Jatim, Red) dan muncul informasi bahwa sejumlah kiai sepuh tidak setuju kalau saya menjadi ketua umum PB NU. Lalu, saya ketemu sama Gus Zainudin Ploso. Saat itu saya katakan kepada beliau bahwa saya tidak peduli dengan itu. Memangnya kiai sepuh mau apa? Saat ini kiai sepuh sudah sulit mendengarkan langsung suara rakyatnya.

Lalu, Anda mempercayakan pemberdayaan umat itu kepada kiai kampung?

Ya, benar. Sebab, peranan kiai kampung pada Pemilu 2009 sangat signifikan. Itu akibat perbaikan dalam undang-undang pemilu yang berimplikasi pada perubahan sistem pemilu, seperti KPU/KPUD, dan lainnya. Dalam kondisi itu, peran kiai sepuh sudah tidak signifikan lagi. Banyak kiai sepuh yang sekarang ikut pemerintah dan hasil sama saja. Kiai kampunglah yang bisa mengendalikan dan mengarahkan umat kepada PKB. Sebab, kiai kampung bersinggungan langsung dengan rakyat. Karena itu, posisi kiai kampung menjadi sangat penting dalam kehidupan politik bangsa saat ini.

Adakah alasan lain?

Kalau kita merunut alur sejarah peradaban Islam, kita selalu kalah akibat dari upaya pendekatan pada wilayah institusi atau struktur, bukan budaya atau kultur. Jika kultur ditinggalkan, maka kita akan kalah. Bayangkan, saat ini banyak kiai khos yang melekat pada institusi, banyak dari mereka yang sekarang justru menjadi pegawai negeri. Karena itu, dengan mengembalikan hakikat peran kiai kampung, maka penguatan budaya atau kultur akan menjadi semakin mapan.

Apa sebenarnya terminologi kiai kampung?

Kiai kampung itu istilah untuk menunjuk kepada dua macam kiai dalam masyarakat kita. Yang pertama adalah kiai sepuh atau kiai khos, yakni mereka yang telah menjadi pengasuh pesantren-pesantren besar seperti Langitan, Lirboyo, Tebuireng, dan lainnya. Sementara kiai kampung adalah kiai yang hidupnya langsung bersinggungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Mengapa ada dikotomi semacam itu?

Kalau dulu, KH Hasyim Asyari dari Tebuireng, Jombang, masih bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan aspirasi para warga. Jadi, pola komunikasi yang dijalankan kiai sepuh masih jalan. Sedangkan sekarang, banyak kiai sepuh yang menghabiskan waktu untuk berhubungan orang-orang pemerintahan maupun elite kekuasaan. Akibatnya, peluang komunikasi kiai sepuh dengan masyarakat bawah lebih kecil. Saat ini, masyarakat butuh pola komunikasi yang lancar dengan para kiainya yang bisa memahami dan mengerti langsung tentang kondisi mereka.

Apa yang terjadi dengan peran kiai sepuh?

Kiai sepuh itu sudah tidak mampu berkomunikasi langsung dengan rakyat karena pengasuhnya adalah kiai-kiai yang bergaul dan di-sowani oleh kiai-kiai yang kelasnya ada di bawah kiai sepuh. Jadi, mereka tidak lagi berhubungan dengan masyarakat, tetapi dengan para penghubung yang memisahkan hubungan langsung dengan para penganut. Para penghubung itu dapat saja berupa kiai pesantren kecil, pejabat, atau pihak lain yang berkepentingan. Bahkan, banyak juga kiai sepuh yang berkenalan dengan uang, kekuasaan, dan jabatan.

Seberapa signifikan pengaruh kiai kampung terhadap masyarakat?

Tidak sedikit kiai kampung yang dihadapkan kepada keharusan menerima penilaian para kiai sepuh tentang keadaan yang dihadapi, tetapi mereka juga harus mendengarkan pendapat orang pinggiran, rakyat kecil, maupun pihak lain yang tidak masuk dalam lingkaran kekuasaan. Sekarang ini, sudah saatnya kiai kampung mendengarkan pendapat masyarakat yang berada di luar kekuasaan itu. Dengan cara itulah, akan tercipta pola hubungan timbal balik yang sehat antara kiai kampung dan rakyat yang mereka pimpin. Jadi, wajar kalau kiai kampung lebih mengerti keadaan dan perasaan rakyat kecil yang sebenarnya. (Ahmad Khoirul Umam) / Diambil dari Jawa Pos, Kamis 15/02/2007

3 Tanggapan

  1. lumayan… harus dikembangkan

  2. Oke terima kasih

  3. trims atas beritanya, buat saya yang tdk langganan jawa pos jadi tahu perkembangan Kyai kampung. sekali lagi trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: